Thursday, August 11, 2016

mengenal lebih jauh JERAWAT




Salah Satu gangguan yang sangat umum dan terutama diderita para remaja pada masa akil balig (pubertas) adalah jerawat atau acne vulgaris. Menurut perkiraan lebih dari 50% masyarakat usia 12-25 tahun menderita suatu bentuk acne. Biasanya menjelang usia sekitar 20 tahun ganggaun ini berkurang atau hilang sama sekali dengan sendirinya. Tetapi kurang lebih 10% dari pria (dan wanita) masih berjerawat setelah melewati masa pubertas, terutama para wanita sewaktu masa haid, penggunaan pil antikonsepsi dan kehamilan yang dipicu oleh perubahan kadar hormon dalam tubuhnya. Kemungkinan penyebab lain dari jerawat adalah keturunan (Anonim, 2003).
http://www.google.co.id/imglanding?q=etiologi+jerawat&um=1&hl=id&tbm=isch&tbnid=5M0q

Gejala-gejalanya berupa kulit yang berminyak dengan bibtik-bintik hitam dan putih (komedo) dan / atau gejala peradangan, bisul-bisul bernanah kekuning-kuningan serta parut-parut, terutama pada wajah. Gejala ini sangat “merugikan” wajah penderita dan menurunkan rasa percaya dirinya. Justru pada masa pubertas, pada saat seseorang memulai berhubungan social kebanyakan remaja merasa tidak percaya diri disamping acne dapat sangat mengganggu pergaulannya dengan remaja lain. Sering kali penderita demikian, sungkan pergi ke pesta atau ke disko, atau membuat janji (dating) dan merasa tidak percaya diri sewaktu melamar pekerjaan. Keadaan demikian perlu ditangani dengan serius karena dapat sangat menekan penderita. Pengobatannya ditujukan untuk seminimal mungkin meninggalkan parut (Anonim, 2003).
Insiden jerawat 80-100% pada usia dewasa mudah yaitu pada usia 14-17 tahun pada wanita, dan 16-19 tahun pada pria (Yuindartanto, 2009 ; Harper, 2008). Berdasarkan penelitian Goodman (1999), prevalensi tertinggi terjadi pada usia 16-17 tahun, dimana pada wanita berkisar 83-85% dan pada pria berkisar 95-100%. Dari survei di kawasan asia tenggara , terdapat 40-80% kasus jerawat, sedangkan di Indonesia, catatan studi kelompok dermatologi kosmetik indonesia, menujukan terdapat 60% penderita jerawat pada tahu 2006 dan 80% pada tahun 80% pada tahun2007. Dari kasus di tahun 2007, kebanyakan penderitanya adalah remaja dan dewasa yang usianya 11-30 tahun sehingga beberapa tahun belakangan ini para ahli dermatologi mempelajari patogenitan terjadinya penyakit tersebut. Meskipun demikian jerawat dapat pula terjadi pada usia lebih mudah atau lebih tua daripada usia tersebut (Efendy, 2003).
Meskipun kebanyakan jerawat terjadi pada remaja atau dewasa muda, tetapi pada kenyataannya jerawat juga timbul pada berbagai golongan usia lainnya. Jerawat seringkali dihubungakan dengan kondisi tubuh, baik pada saat stres karena banyak masalah, atau dapat pula sebaliknya pada saat sedang berbahagia. Pada waktu pubertas terdapat kenaikan dari hormon androgen yang berperan dalam darah yang dapat menyebabkan hiperplasia dan hipertrofi dari glandula sebasea sehingga tidak heran jika angka kejadian jerawat paling banyak pada usia remaja (Yuindartanto, 2009).





BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI
Akne vulgaris merupakan suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar pilosebasea. dengan adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan kista pada tempat predileksinya. Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gambaran klinis akne vulgaris sering polimorfi; terdiri atas berbagai kelainan kulit berupa komedo, papul, pustul, nodul, dan jaringan parut, yang terjadi akibat kelainan aktif tersebut, baik jaringan parut yang hipotrofik maupun yang hipertrofik (Anonim , 2003).
Penyakit ini terutama terjadi pada remaja dan biasanya berinvolusi selama usia 25 tahun namun bisa berlanjut sampai usia dewasa. Akne vulgaris terutama timbul pada kulit yang berminyak berlebihan akibat produksi sebum yang berlebihan di tempat dengan glandula sebasea yang banyak (Yuindartanto, 2009).
Penyebaran jerawat ini sesuai dengan daerah kelenjar pilosebasea dan terjadi meliputi wajah, leher, dada, punggung dan bahu. Etiologi jerawat ini adalah multifactor. Seringkali terdapat riwayat keluarga yang merupakan penderita jerawat, terutama jerawat kistik. Berbagai jenis make-up dasar yang mengandung minyak sering memperberat jerawat, juga jenis minyak eksterna dank rim pelembab. Kecuali itu, kortikosteroid sistemik, yodida dan / atau dilantin juga dapat memperberat jerawat. Hormone androgen memperberat jerawat, sedangkan pil keluarga berencana yang mengandung astrogen dapat menghilangkan jerawat. Jumlah bakteri Propionibakterium jerawat meningkat pada unit-unit pilosebasea pasien penderita jerawat juga membentuk lebih banyak sebum (Sylvia, dkk., 1985).







B.     JENIS DAN GANGGUAN PADA KULIT WAJAH
A.    Jenis Kulit Wajah
Ada 4 jenis kulit wajah yakni kuit kering, berminyak normal dan kombinasi.
1.      Kulit kering
Pada jenis kulit kering, kelenjar sebasea dan keringat hanya dalam jumlah sedikit. Jenis kulit kering mempunyai ciri penampakan kulit terlihat kusam
2.      Kulit berminyak
Pada jenis kulit berminyak, kelenjar sebasea dan keringat terdapat dalam jumlah banyak. Jenis kulit berminyak memunyai ciri kulit wajah mudah berjerawat.(Banyaknya sabum yang dihasilkan dapat menyumbat pori-pori kulitdan tempat bersarangnya bakteri yang mengakibatkan tumbuhnya jerawat.
3.      Kulit normal
Pada jenis kulit normal,jumlah kelenjar sebaseadan keringat tidak terlalu banyak karena karena tersebar secara merata. Cirri jenis kulit normal adalah kulit tampak lembut, cerah dan jarang mengalami masalah.
4.      Kulit kombinasi
Pada jenis kulit kombinasi, penyebaran kelenjar sebasea dan kerigat tidak merata. Jenis kulit kombinasi mempunyai ciri kulit dahi, hidung dan dagu tampak mengkilap, berjerawat tetapi kulit bagian pipi tampak lembut.
B.     Gangguan pada Kulit Wajah
1.      Kulit keringat
Kulit kering sering mengalami dehidrasi atau kekurangan air serta lebih muda mengalami keriputdan vlek coklat. Akibat kurangnya kelenjar sebasea, lemak sebum sangat sedikit, sehingga kulit ari lebih mudah kehilangan kadar air karena penguapan meningkat.  
2.      Kulit berminyak
Jenis kulit berminyak, populasi bakteri atau jamur yang senang memakan lemak (lipofilik) mudah mengalami peningkatan. Masalah yang terjadi pada kulit jenis ini sebagai berikut:

a.       Jerawat
Jerawat pada wajah disebabkan oleh ulah bakteri Propionibacteri Acne yang megubah lemak sabum dari bentuk cair menjadi lebih padat, sehingga mudah menyumba pori-pori kulit.
b.      Reaksi Gatal di Wajah Saat Berkeringat
Reasi gatal diwajah saat berkeringat disebabkan oleh ulah jamur. Saat permukaan kulit basah benang-benang jamur lebih mudah menembus bagian luar kulit ari, dan kehadirannya mengundang reaksi radang ringan berupa rasa gatal (Dwikarya, M., 2004)

C.    JENIS JERAWAT DAN PROSES TIMBULNYA
1.      Komedo
Stress fisik dan psikis juga dapat menimbulkan produksi sebum, yang berakibat bisa meningkatkan populasi bakteri P. acnes. Selain itu, bisa juga meningkatkan hidrolisis asam lemak menjadi asam lemak jenuh.
            Adanya sebum akan terhambat akibat adanya sumbatan pori-pori kulit. Diet tinggi lemak juga mempengaruhi terbentuknya sebum yang lebih kental, sehingga mudah menjadi padat di permukaan pori-pori kulit. Sumbatan pada pori-pori ini pada awalnya tampak berwarna putih pucat, yang dikenal sebagai “komedo tertutup” atau “white head comedo” kemudian menjadi kehitaman yang disebut “komedo terbuka” atau “black head comedo”.
2.      Jerawat Radang
Jerawat radang terjadi akibat kantung folikel yang ada di dalam dermis menggembung karena lemak padat, kemudian pecah, menyebabkan sel darah putih menyerbu ke sekitar folikel sebasea, sehingga terjadilah reaksi radang.
Peradangan akan semakin parah bila kuman dari luar ikut masuk ke dalam jerawat akibat perlakuan yang salah, seperti dipijat dengan kuku atau benda lain yang tidak steril. Jerawat radang mempunyai cirri berwarna merah, cepat membesar, berisi nanah dan terasa nyeri.



3.      Jerawat Konglobata
Jerawat kongoblata adalah jerawat berupa bisul-bisul besar yang bergerombol menjadi satu (konglomerasi) membentuk danau nanah dan menimbulakan demam reaksi demam setempat.
Jenis jerawat ini disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan kulit wajah, seperti kebiasaan memijat jerawat dengan kuku jari tangan yang kotor atau dengan alat yang tidak steril, yang bisa menyebabkan perluasan infeksi bakteri. Jerawat jenis ini setelah sembuh, bisa meninggalkan berkas jaringan parut yang buruk rupa, kulit bergelombang dan mengeras.
4.      Jerawat Dada dan Punggung
Jerawat bisa timbul pada dada dan punggung, karena alasan sebagai berikut:
ü  Hormone testosterone darah terlalu tinggi, ditandai dengan lengan dan tungkai berbulu
ü  Mendapat pengobatan hormone testosterone dalam upaya menggemukkan badan dan meningkatkan potensi seksualitas
ü  Memakai krim anti-alergi yang mengandung steroid potent secara berlebihan dan dalam waktu yang lama dan luas (Dwikarya, M., 2004).

D.     ETIOLOGI JERAWAT
        Faktor penyebab jerawat sangat banyak (multifaktorial), antara lain genetic, endokrin, faktor makanan, keaktifan dari kelenjar sebasea sendiri, faktor psikis, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), kosmetika dan bahan kimia lainnya. Penyebab yang pasti belum diketahui, tapi banyak banyak faktor yang berpengaruh, seperti:
a.       Sebum
Sebum merupakan faktor utama terhadap penyebab timbulnya acne. Akne yang keras selalu di pengaruhi oleh sebore yang banyak
b.      Bakteri
Mikroba yang berperan dalam pembentukan akne adalah Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan pityrosporum ovale


c.       Herediter
Faktor herediter sangat berpengaruh pada besar dan aktivitas kelenjar palit (glandula sebasea). Apabila kedua orangtua mempunyai parut bekas akne, kemungkinan besar anakanya akan menderita akne.
d.      Endokrin, diantaranya:
Hormon androgen. Hormone ini memegang peranan yang penting karena kelenjar palit sangat sensitive terhadap hormon ini. Hormone ini berasal dari testis dan kelenjar anak ginjal (adrenal). Hormon ini menyebabkan kelenjar palit bertambah dan produksi sebum meningkat.
Estrogen. Pada keadaan fisiologis, estrogen tidak berpengaruh pada produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan kadar gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisis. Hormon gonadotropin mempunyai efek menurunkan produksi sebum.
Progesteron. Progesterone dalam jumlah fisiologis tidak mempunyai efek pada efeksifitas terhadap kelenjar lemak. Produkis sebum tetap selama proses menstruasi, akan tetapi kadang-kadang akne dapat menyebabkan akne pre-menstrual.
e.       Diet
Diet tidak begitu berpengaruh terhadap timbulnya akne. Pada penderita yang banyak makan karbohidrat dan zat lemak, tidak dapat dipastikan akan terjadi perubahan pada pengeluaran sebum atau komposisinya karena kelenjar lemak bukan alat yang kita makan.
f.       Iklim
Sinar ultraviolet (UV) mempunyai efek membunuh bakteri pada permukaan kulit. Selain itu, sinar ini juga dapat menembus epidermis bagian atas dan bawah dermis sehingga berpengaruh pada bakteri yang berada di bagian dalam kelenjar palit. Sinar UV juga dapat mengadakan pengelupasan kulit yang dapat membantu menghilangkan  sumbatan saluran pilosebasea.
g.      Faktor psikis
Pada beberapa penderita, stress dan gangguan emosi dapat menyebabkan penderita memanipulasiakne-nya secara mekanis sehingga terjadi kerusakan pada dinding folikel dan timbul lesi yang beradang baru, teori lain mengatakan bahwa eksaserbasi ini disebabkan oleh meningkatnya produksi hormone androgen dari kelenjar anak ginjal dan sebum, bahkan asam lemak dan sebum pun meningkat.
h.      Komestika
Jenis kosmetika yang dapat menimbulkan akne tidak tergantung pada harga, merek, dan kemurnian bahannya. Penyedilikan terbaru di Leeds, tidak berhasil menemukan hubungan antara lama  pemakaian dan jumlah kosmetika yang dipakai dengan hebatnya akne.
i.        Bahan-bahan kimia
Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan erosi yang mirip dengan akne (acneform eruption), seperti iodide, kortikosteroid, INH, obat anti konvulsan (fenobarbital, trimetandion), tetrasiklin, vitamin B12 (Anonim, 2003).




















E.     PATOFISIOLOGI JERAWAT
Mekanisme yang tepat pada jerawat tidak diketahui, tetapi ada 4 faktor pathogen utama:


1.         Peningkatan produksi sebum; 
Produksi sebum yang berlebihan dari kelenjar  sebasea. Pasien dengan akne memproduksi sebum yang lebih banyak daripada  orang yang tanpa akne, meskipun kualitas dari sebum yang dihasilkan tetap sama.  Salah satu komponen sebum, trigliserida, memiliki peran dalam patogenesis akne.  Trigliserida diubah menjadi asam lemak bebas oleh  P. acnes, flora normal unit pilosebasea. Asam lemak bebas ini akan mempromosikan penggumpalan bakteri  lebih lanjut dan kolonisasi  P.acnes, inflamasi, dan mungkin komedogenik. Halhal yang berpengaruh dalam peningkatan produksi sebum adalah aktifitas  androgen, hiperinsulinemia yang berperan dalam sintesis  androgen di ovarium, dan stress (Cordain,2002;Wasitaatmadja,2008;Zaenglein,2008).
Hormon-hormon androgenik juga mempengaruhi produksi sebum, seperti testosteron yang mengakibatkan pembesaran kelenjar sebasea yang akhirnya meningkatkan produksi sebum (Odom,2000).  Peran estrogen pada produksi sebum belum begitu dipahami. Dosis  estrogen yang dibutuhkan untuk mengurangi produksi sebum lebih tinggi daripada  dosis yang dibutuhkan untuk menghambat ovulasi. Mekanisme kerja estrogen  termasuk: (1) secara langsung melawan efek androgen pada kelenjar sebasea; (2) inhibisi produksi androgen pada  jaringan gonad melalui negative feedback pada pelepasan gonadotropin hipofisis; (3) regulasi gen yang menekan pertumbuhan kelenjar sebasea atau produksi lipid (Zaenglein,2008).  




2.         Hiperproliferasi folikel epidermis;
Hiperproliferasi folikel epidermis menghasilkan formasi lesi primer,  mikrokomedo. Epithelium dari bagian atas folikel rambut, infundibulum, menjadi  hyperkeratosis dengan peningkatan kohesi dari keratosit-keratosit. Sel-sel yang begitu banyak dan perlekatannya menghasilkan sumbatan pada saluran folikel.  Sumbatan ini kemudian menyebabkan peningkatan akumulasi keratin, sebum, dan bakteri dalam folikel. Ini menyebabkan dilatasi bagian atas folikel rambut,  menghasilkan komedo. Stimulus dari hiperproliferasi keratosit dan peningkatan  adhesi ini belum diketahui. Tetapi beberapa faktor yang diduga termasuk stimulasi androgen, penurunan asam linoleat, dan peningkatan aktifitas interleukin (IL)-1α (Zaenglein,2008). Faktor lain yang berpengaruh adalah hiperinsulinemia akut/kronik. Hiperinsulinemia akan mengakibatkan kenaikan insulin like growth factor (IGF-1) dan menurunkan level IGF binding protein 3 (IGFBP-3). Kenaikan  IGF-1 memiliki potensi yang tinggi untuk pertumbuhan semua jaringan, termasuk folikel yang kemudian dapat menimbulkan akne (Cordain,2002).






3.      Fungsi bakteri abnormal dan inflamasi

Mikrokomedo berlanjut semakin meluas dengan penumpukan keratin, sebum, dan bakteri yang bersifat padat. Kemudian distensi ini menyebabkan  dinding folikel rusak. Dan masuknya keratin, sebum, dan bakteri ke dalam dermis  menghasilkan respon inflamasi yang berlangsung cepat (Zaenglein,2008).

Elemen berikutnya adalah  keberadaan dan aktifitas  P.acnes.  Bakteri ini  termasuk gram positif, anaerobic dan mikroaerobik yang ditemukan di folikel  sebasea.  Remaja dengan akne memiliki konsentrasi  P.acnes  yang lebih tinggi  daripada mereka yang tanpa akne. Dinding sel bakteri ini mengandung antigen karbohidrat yang menstimulasi antibodi. Antibodi anti propionibakteri meningkatkan respon inflamasi dengan mengaktifasi komplemen. Bakteri ini juga memfasilitasi inflamasi dengan menimbulkan reaksi hipersensitif tipe 4 melalui produksi lipase, protease, hialonidase, dan faktor kemotaktik. Sebagai tambahan, bakteri ini juga menstimulasi upregulasi dari sitokin dengan berikatan dengan Toll like receptor 2. Setelah berikatan, kemudian sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-8, IL-12, dan TNFα dikeluarkan (Zaenglein,2008).









F.     DIAGNOSIS
          Diagnosis akne vulgaris dibuat atas dasar klinis dan pemeriksaan  ekskohleasi sebum, yaitu pengeluaran sumbatan sebum dengan komedo ekstraktor  (sendok Unna). Sebum yang menyumbat folikel tampak sebagai massa padat   seperti lilin atau massa lebih lunak bagai nasi yang ujungnya kadang berwarna  hitam (Wasitaatmadja,2008). Pemeriksaan histopatologis memperlihatkan gambaran yang tidak spesifik berupa serbukan sel radang kronis di sekitar folikel pilosebasea dengan massa sebum di dalam folikel. Pada kista, radang sudah menghilang diganti dengan  jaringan ikat pembatas massa cair sebum bercampur dengan darah, jaringan mati, dan keratin yang lepas (Wasitaatmadja,2008).
          Pemeriksaan mikrobiologis terhadap jasad renik yang mempunyai peran  pada etiologi dan patogenesis penyakit dapat dilakukan laboratorium mikrobiologi   yang lengkap untuk tujuan penelitian, namun hasilnya sering tidak memuaskan (Wasitaatmadja,2008). Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit (skin surface lipids) dapat pula dilakukan untuk tujuan serupa. Pada akne vulgaris kadar asam lemak bebas (free fatty acid) meningkat dan karena itu pada pencegahan dan pengobatan digunakan cara untuk menurunkannya (Wasitaatmadja,2008).










G.    PENCEGAHAN
1.    Mencuci wajah 2 kali sehari
Mencuci wajah 2 kali sehari akan membantu menghilangkan minyak di permukaankulit kita. Jika kita jarang membersihkannya, maka bakteri penyebab jerawat akanhidup subur di wajah kita. Namun ingat..jangan mencuci wajah apalagi menggosokwajah secara berlebihan karena malah akan meningkatkan produksi minyaksobaceous yang dapat menyebabkan masalah kulit pada wajah. Cucilah wajah 2 kalisehari dengan menggunakan sabun yang lembut.
2.     Sesuaikan kosmetik dengan jenis kulit anda
Jika kulit anda berminyak maka gunakanlah kosmetik untuk kulit berminyak, jikakosmetik yang anda gunakan tidak sesuai dengan jenis kulit anda..jerawat akansegera mendatangi kulit wajah anda. Jadi berhati-hatilah dalam memilih kosmetik.
3.     sebisa mungkin hindari kosmetik yang berminyak.
secara alami wajah kita akan menmproduksi minyak, bahkan kulit kering sekalipun.Jadi sebisa mungkin hindarilah hindarilah menggunakan kosmetik yang berlebihankarena minyak dan debu akan menjadi media bakteri penyebab jerawat untukbermukim di wajah kita.
4.     Keringkan wajah kita dengan handuk yang bersih setelah cuci mukaatau mandi,
karena bakteri juga menyukai tempat yang lembab dan hangat.
5.     Minum air putih
Hampir 70% kulit kita terdiri dari air, dengan minum air minimal 2 liter sehari, maka kulit kita akan selalu fit dan sehat.
6.    gunakan pelembab kulit
Menggunakan pelembab akan membantu menyehatkan kulit kita, terutama darikulit kering dan pecah2. Namun pelembab disini bukan berarti pelembab yangberminyak..sekarang sudah banyak produk kosmetik yang berbahan dasar air.
7.     selalu pastikan kulit anda bersih sebelum tidur.
Selalu cuci muka anda sebelum tidur agar kulit beregenerasi dengan baik.



8.    Sering-seringlah makan sayur dan buah.
sayur2an mengandung banyak vitamin yang menyehatkan kulit kita. Perbanyaklahmakan sayur atau buah, terutama yang mengandung vitamin E. Dengan kulit yangsehat, maka jerawat akan sukar untuk tumbuh dan berkembang.
9.    Tidur yang cukup dan teratur.
Kulit juga sama seperti kita, butuh istirahat. Jadi biasakanlah untuk tidur yangcukup dan teratur. Karena saat kita tidur, kulit akan beregenerasi dan membuangracun2 yang berbahaya sehingga saat kita bangun keesokan harinya kulit kita akankebali segar.
















H. PENGOBATAN
            Tujuan dari terapi jerawat adalah mengurangi proses peradangan kelenjar pilosebasea sampai terjadi penghentian spontan gejala-gejala itu. Pengobatan jerawat dan keadaan yang berkaitan dapat memperbaiki kosmetis pasien tersebut, juga pandangannya tentang dirinya sendiri.Kecuai itu dapat mencegah parut akibat jerawat.
            Swamedikasi acne sebetulnya untuk kasus-kasus yang ringandan tidak terlalu para dengan obat benzoilperoksida dan salisilat. Obat yang efektif bagi seseorang, kadang memperburuk pada yang lain. Obat yang paling efektif dan digunakan secara standar adalah benzoilperoksida, suatu keratolitik yang berfungsi untuk melepaskan lapisan tanduk (keratin) sehingga pori-pori folikel KT yang tersumbat dapat terbuka kembali dan talg yang tertimbun mudah mencari jalan keluar. Berkhasiat pula terhadap peradangan dan memberantas kuman .P.acnes dapat dibeli tanpa resep dokter dalam bentuk gel dengan kadar 5% dan digunakan 1-2 kali sehari. Bila setelah 2-3 minggu belum ada perbaikan, dapat ditingkatkan dengan kadar 10%. Efek pengobatan baru tampak sesudah 3-4 bualn, dan perlu dilanjutkan lagi setelah 1-2 bulan. Keratolitik efektif lain yang di gunakan adalah asam salisilat sebagain lation atau krem. Terutama manjur pada komedo tanpa peradangan (kemera-merahan atau bernanah)
             Dianjurkan penggunaan sabun seperti Lava, Dial, Pernox, Foster, Neutrogena, dan Desquan-x-wash. Untuk jerawat rosasea dan dermatistis perioral sebaiknya jangan digosok terlalu keras.Untuk melepaskan komedo seuperfisial dapat digunakan sejenis spons penggosok khusus seperti Buf-puf.Setiap hari dipakai zat keratolitik seperti benzoil peroksida dengan konsentrasi 5-10%. Sulfur endapan (1-2%) berguna untuk mengeringkan pustula terutama jerawat rosasea. Vit A asam kream retin-A (0,05%) dan gel (0,01%) berguna juga, karena pengaruh keratolitiknya pada komedo superficial. Tetapi derifat retin-A sendiri dapat meningkatkan iritabilitas kulit terhadap kontak dengan angin, matahari atau cuaca dingin.
 

system kardiovaskuler



a. system kardiovaskuler
            Terdapat dua  kejadian yang sangat penting yang terjadi segera setelah bayi lahir, yaitu terjadinya pernafasan bayi pertama kali dan putusnya hubungan neonatus dengan plasenta. Perubahan kardiovaskular yang terjadi segera setelah lahir berupa perubahan peredaran darah yang memungkinkan darah mengalir melalui paru-paru. perubahan-perubahan yang terjadi lebih bertahap adalah hasil dari perubahan tekanan di paru-paru, jantung, dan pembuluh darah besar. Hal tersebut meliputi penurunan resistensi vascular paru, peningkatan aliran darah paru, peningkatan resistensi sistemik,  pengaliran darah melalui duktus arteriosus kiri ke kanan dan penutupan foramen ovale.

            Setelah proses pernafasan berlangsung, udara yang masuk ke dalam paru menyebabkan turunnya resistensi pembuluh darah pulmonal. Dengan adanya perubahan ini, aliran darah ke atrium kiri melalui vena pulmonalis menjadi meningkat sehingga tekanan dalam atrium kiri lebih tinggi dari atrium kanan dan hal ini akan menyebabkan penutupan foramen ovale. Foramen ovale secara fungsional menutup segera setelah lahir.
Jika resistensi pembuluh darah pulmonal turun sampai rendah dari tekanan pembuluh darah sistemik maka duktus arteriosus akan menutup. Duktus arteriosus menutup secara fungsional pada hari keempat.

b. system pernafasan
            Perubahan fisiologis yang paling penting dan segera dibutuhkan oleh bayi yang baru lahir adalah pernapasan. Stimulasi yang membantu memulai napas pertama terutama adalah factor kimia dan termal. Faktor kimia dalam darah (oksigen rendah, karbondioksida tinggi, dan ph rendah) memulai dorongan yang merangsang pusat pernapasan di medula. Sedangkan stimulus thermal utama adalah perubahan suhu yaitu dingin, dimana bayi tiba-tiba meninggalkan lingkungan yang hangat dan memasuki suasana yang relatif lebih dingin. Perubahan suhu yang tiba-tiba merangsang impuls sensorik pada kulit yang dikirim ke pusat pernafasan.
            Stimulasi taktil juga dapat membantu dalam memulai respirasi. Setelah keluar melalui jalan lahir dan  penanganan normal selama persalinan  membantu merangsang respirasi pada bayi tanpa kompromi.
Metode stimulasi taktil yang dapat diterima mencakup  mengibaskan telapak kaki atau mengusap lembut tulang belakang bayi yang baru lahir atau kakinya. Memukul pantat bayi yang baru lahir atau bagian punggung belakang adalah teknik berbahaya dan tidak seharusnya dilakukan. Stimulasi taktil berkepanjangan, lebih dari satu atau dua tepukkake telapak kaki atau mengusap punggung sekali atau dua kali, bisa membuang waktu yang berharga dalam hal kesulitan pernapasan dan dapat menyebabkan kerusakan tambahan pada bayi yang telah menjadi hypoxemic sebelum atau selama proses kelahiran.
            Awal masuknya udara ke dalam paru-paru dibantu oleh tegangan cairan permukaan yang memenuhi paru-paru janin dan alveoli. Beberapa cairan paru-paru juga dapat keluar selama persalinan normal. Saat dada muncul dari jalan lahir, cairan dikeluarkan  dari paru-paru melalui hidung dan mulut. Setelah pengeluaran lengkap dari dada, pernafasan dada terjadi, dan udara memasuki saluran napas bagian atas untuk menggantikan cairan yang hilang. Sisa cairan paru akan dibatukkan bayi atau diserap oleh cappilaries paru dan pembuluh limfatik.

Berikut bagan pernafasan dan sirkulasi paru:
Bayi melewati jalan lahirà dinding dada tertekan sehingga cairan paru-paru akan keluaràpengembangan dinding dada akan menggantikan cairan yang keluar,dan pada sebagian bayi, otot-otot glossofaringeus kontraksi dan memeasukkan udara kedalam trakeaàtekanan atmosfir=tekanan intrapleura.pemotongan tali pusatàsirkulasi plasenta (-)àasfiksia PO2 turun dan PCO2 meningkatàadanya rangsang dingin menyebabkan bayi menangis (tarik nafas, kontraksi otot-otot pernafasan)à paru-paru mengembang (PO2 naik)àbradikininàvasodilatasià resistensi paru turunàtekanan pulmonalis menurunàaliran balik duktus arteriosus, aliran balik vena sistemik ke vena cava inferioràvolume atrium kiri>atrium kananàtekanan atrium kiri>atrium kananàforamen ovale menutup

2. Health problem
a. recognize common deviations from normal characteristic in the newborn
1. cedera kelahiran
            Disebabkan oleh bebrapa factor meliputi faktor ibu termasuk disfungsi rahim yang mengarah ke persalinan lama, persalinan prematur, dan disproporsi cephalopelvic. Cedera mungkin hasil dari distosia yang disebabkan oleh macrosomia fetal, kehamilan multifetal, presentasi abnormal atau sulit , dan anomali kongenital. Peristiwa intrapartum yang dapat menyebabkan cedera kepala meliputi penggunaan pemantauan intrapartum dari denyut jantung janin dan pengumpulan darah dari kulit kepala janin untuk penilaian asam basa. Tteknik kelahiran obstetrik dapat menyebabkan cedera. Penggunaan forcep, ekstraksi vakum, versi, dan ekstraksi, dan kelahiran sesar.
2. Cedera jaringan lunak
3. Trauma kepala
            Trauma kepala dan kulit kepala yang terjadi selama proses kelahiran biasanya jinak tetapi kadang-kadang menyebabkan cedera yang lebih serius. luka yang menghasilkan trauma serius, seperti perdarahan intracranial dan hematoma subdural berhubungan dengan gangguan saraf. Patah tulang tengkorak dibahas dalam hubungan dengan fraktur lainnya yang berkelanjutan selama proses kelahiran. Ketiga jenis cedera yang paling umum pada perdarahan ekstracranial adalah:
- perdarahan caput succedaneum,
            lesi kulit kepala yang paling sering diamati adalah caput succedaneum, area samar-samar pada edematous  yang terletak diatas bagian kulit kepala. Pembengkakan terdiri dari serum atau darah, atau keduanya, akumulasi diatas jaringan tulang dan seringkali meluas melampaui margin tulang. Pembengkakan dapat berhubungan dengan petechae atau ekimosis pada bagian atasnya/permukaan .
- perdarahan subgaleal
- cephalhematoma.
            Adalah perdarahan sub periosteal akibat ruptur pembuluh darah antara tengkorak dan periosteum. Biasa terjadi pada kelahiran primipara, dan berhubungan dengan penggunaan forcep dan vakum ekstrasi.Cephalhematoma mungkin melibatkan salah satu atau kedua tulang parietal. Pembengkakan biasa minimal atau tidak ada pada saat kelahiran dan bertambah besar pada hari kedua atau ketiga

4. Patah tulang
5. Paralysis
- Facial paralysis
            tekanan pada saraf wajah (saraf kranial 7) selama melahirkan dapat mengakibatkan cedera pada saraf itu. manifestasi klinis utama adalah hilangnya gerakan pada sisi yang terkena, seperti ketidakmampuan untuk benar-benar menutup mata, mulut miring tidak simetris, dan tidak adanya kerut pada dahi dan nasolabial.
- Brachial palsy
Pleksus brakialis adalah jaringan saraf di leher dan bahu, biasanya berasal dari kelima serviks melalui akar saraf pertama toraks, terdiri dari struktur anatomi disebut batang, divisi dan tali, dan berakhir dalam saraf tertentu untuk otot-otot individu dari korset bahu, lengan, dan tangan. Faktor risiko: terutama besar untuk usia kehamilan (gestational diabetes), distosia bahu dan mempunyai bayi dengan Erb palsy
- Phrenic nerve paralysis
6. Erythema toxicum neonatorum
7. Candidiasis
            Kandidiasis merupakan spektrum penyakit yang disebabkan oleh spesies Candida (ragi). Pada anak-anak immunocomponent, mayoritas terwujud sebagai kandidiasis mukosa superfisial (kandidiasis orofaringeal atau sariawan), dan kulit (dermatitis popok) infeksi. Pada anak-anak immunocompromised, Candida dapat menyebabkan penyakit invasif dan menyebar. Candidasis adalah infeksi jamur yang paling umum pada anak-anak dirawat di rumah sakit
- oral candidiasis. Orofaringeal kandidiasis (thrush) terjadi di hingga 40% dari bayi yang sehat. Bercak putih, bahan curdish terlihat pada mukosa bukal dan gingiva.
Hal itu dapat menyebabkan rasa sakit di mulut dan perawatan yang buruk. Pada anak-anak yang lebih tua, hal ini terkait dengan penggunaan antibiotik atau obat imunosupresif, kondisi disfungsi endokrin atau kekebalan tubuh, dan keganasan.

8 Herpes
            Herpes neonatal berperan pada salah satu dari tiga cara
1. dengan kulit, aye, dan melibatkan mulut
2. sebagai penyakit sistem saraf pusat lokal/central nervous system (CNS)
3. penyebaran penyakit melibatkan beberapa organ
9. tanda lahir

b. perform a systematic assesmentnof a high risk newborn
1. Pengkajian fisik
a. pengkajian umum
Ø  menggunakan skala elektronik, menimbang setiap hari, atau lebih sering jika diindikasikan
Ø  mengukur panjang dan lingkar kepala secara berkala
Ø  menggambarkan secara umum bentuk tubuh dan ukuran , postur saat istirahat, kemudahan bernapas, kehadiran dan lokasi edema
Ø  menjelaskan setiap cacat jelas
Ø  menjelaskan tanda-tanda distres, hypotonia, lethargy, apnea
b. pengkajian pernafasan
Ø  menggambarkan bentuk dada (barrel, cekung), kehadiran simetri Insisi, tabung dada atau penyimpangan lainnya
Ø  menggambarkan penggunaan otot-otot  aksesori, hidung, faring, interkostalis substernal, atau suprasternal retractions
Ø  menentukan tingkat pernapasan dan keteraturan
Ø  auscultate dan menggambarkan suara napas, crackles, wheezing, grunting, stridor, persamaan bunyi napas
Ø  menentukan saturasi oksigen oleh oksimetri nadi dan tekanan parsial oksigen dan menggambarkan karbondioksida oleh transkutan karbondioksida
Ø  menggambarkan oksigen ambient dan metode pengiriman jika intubasi, menjelaskan ukuran dan posisi dari jenis tabung atau ventilator dan pengaturan
c. pengkajian kardiovaskuler
Ø  menentukan denyut jantung dan irama
Ø  menggambarkan suara jantung, termasuk murmur
Ø  menentukan titik impuls maksimum (PMI), titik di mana detak jantung terdengar dan palpates paling keras (sebuah perubahan di PMI mungkin menunjukkan suatu pergeseran mediastinum)
Ø  menggambarkan warna bayi (mungkin karena jantung, pernapasan atau hematopoietik bawaan)-, sianosis, pallor, jaundice, mottling
Ø  menilai warna membran mukosa bibir
Ø  menentukan tekanan darah. untuk ekstremitas menunjukkan digunakan dan ukuran manset
Ø  menggambarkan nadi perifer, pengisian kapiler/ capillary refill, perfusi perifer (mottling)
Ø  menggambarkan pemantauan , mengguanakn parameter, dan apakah alarm berada dalam posisi ”on”
d. pengkajian gastrointestinal
Ø  menentukan adanya distensi abdomen - peningkatan lingkar, kulit mengkilap, bukti eritema dinding abdomen, peristaltik terlihat, loop terlihat dari usus, status umbilikus
Ø  menentukan tanda-tanda dari regurgitasi, dan waktu yang terkait dengan makan, menggambarkan karakter dan jumlah sisa jika gavage makan, jika tabung nasogatric berada di tempat, menjelaskan jenis suction, drainase (warna, konsistensi, ph, guaiac)
Ø  menggambarkan jumlah, warna, konsistensi bau, dan jenis dari emesis apapun
Ø  palpasi batas hati (1 sampai 3 cm di bawah batas kosta kanan)
Ø  menggambarkan jumlah, warna, dan konsistensi dari kotoran, periksa darah samar atau mengurangi zat jika diperintahkan atau ditunjukkan oleh penampilan tinja
Ø  menggambarkan suara usus, ada atau tidaknya (harus ada jika makan)
e. pengkajian genitourinaria
Ø  menggambarkan setiap kelainan alat kelamin
Ø  menggambarkan jumlah (sebagaimana ditentukan oleh berat, warna, ph, temuan labstick, dan berat jenis urin (untuk skrin kecukupan hidrasi)
Ø  cek berat badan (ukuran paling akurat untuk penilaian hidrasi)
f. pengkajian neurologi dan muskuloskeletal
Ø  menggambarkan gerakan bayi, acak, lancar, berkedut, spontan. menggambarkan tingkat aktivitas dengan stimulasi, mengevaluasi berdasarkan usia kehamilan
Ø  menjelaskan posisi bayi atau sikap, tertekuk, diperpanjang
Ø  menentukan tingkat respon dan consolability
Ø  memeriksa kesejajaran pinggul (hanya praktisi yang berpengalaman harus melakukan)
Ø  menentukan respon pupil pada bayi lebih dari 32 minggu kehamilan
Ø  menggambarkan refleks yang diamati,moro, mengisap, babinski, plantar
g. suhu
Ø  menentukan suhu ketiak
Ø  menentukan hubungan dekat dengan suhu lingkungan
h. pengkajiian kulit
Ø  menggambarkan perubahan warna apapun, area kemerahan, tanda iritasi, lepuh, daerah gundul, terutama di mana pemantauan peralatan, infus, atau peralatan yang lainnya bersentuhan dengan kulit, juga memeriksa dan catat setiap persiapan kulit digunakan (povidine iodine)
Ø  menentukan apakah infus iv kateter atau jarum adalah di tempat, dan amati tanda-tanda infiltrasi
Ø  menentukan tekstur dan turgor kulit, kering, halus, bersisik, mengelupas
Ø  menggambarkan setiap kemerahan, luka di kulit, tanda lahir
Ø  menggambarkan garis infus parenteral-- lokasi, jenis(arteri, vena, perifer, umbilikus, central, vena sentral perifer), jenis infus( pengobatan, saline, dextrose, elektrolit, lipid, TPN), jenis pompa infus dan laju alir, jenis kateter, dan tampilan bagian insertion.

Sumber:
Hockenberry, Marilyn.J dan Wilson, David (2009). Wong’s essentials of pediatric nursing, 8th ed. Canada: Elsevier.